Tolak Reuni 212, MUI Beri Pesan Menohok

Tolak Reuni 212, MUI Beri Pesan Menohok

Sosial Budaya No Comments on Tolak Reuni 212, MUI Beri Pesan Menohok

BeritaMonas.com – Acara reuni yang akan digelar anggota Persaudaraan Alumni (PA 212) menjadi polemik. Pro dan kontra pun muncul silih berganti, bahkan sejumlah pihak pun dengan terang-terangan menolak adanya kegiatan tersebut.

Seperti yang disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menyatakan jika pihaknya tidak mempermasalahkan pagelaran maulid nabi atau reuni akbar yang akan digelar 2 Desember mendatang. Namun, menurutnya ada baiknya jika tidak mengatasnamakan 212 lagi karena identik dengan kasus mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok.  

“Kan udah selesai. Nggak usahlah, ya kan reuni itu kan alumni, alumni biasanya sekolah,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Cholil Nafis di kantor Pusat MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (25/11). “Kalau udah nggak sekolah ngapain ada alumni-alumnian segala. Kan udah selesai, Ahok udah dihukum.”

“Kalau cuma temu kangen ya silakan, kalau difinisinya reuni kan nggak masuk. Reuni kan sekolah, kalau demo nanti berapa banyak orang demo nanti,” sambungnya. “Tapi tidak atas nama 212, karena 212 kasus Ahoklah, Ahok sudah dipenjara sudah selesai.”

Cholil pun meminta agar umat tidak terlarut-larut dengan kasus yang terjadi di masa lalu. Apalagi kasus tersebut sudah diproses oleh hukum. Ia pun mengatakan untuk kasus Sukmawati nantinya juga lebih baik diserahkan pada proses hukum.

Itu menurut saya biar kita tidak larut dalam masa lalu yang sudah diproses hukum,” paparnya. “Mari kita menatap ke depan untuk melakukan rekonsiliasi umat. Tapi kalau ada namanya kasus Sukmawati ya silakan diproses hukum.”

Menurut Cholil, acara reuni tersebut akan lebih bermanfaat jika disebut sebagai peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. “Iya maulid lebih bagus, sunahnya jelas,” terangnya. “Maulid lebih bagus namanya. Meskipun kami nggak melarang, silakan tapi maulid lebih bagus, lebih berakar pada budaya.”

Sementara itu, nama 212 terlalu berakar pada politik dan hukum. Oleh karenanya, Cholil meminta agar umat unruk melupakan masa lalu dan menatap ke depan.

“Tapi 212 lebih berakar pada politik dan hukum dan itu udah selesai. Kalau udah selesai terus dibara-barain itu kan rekonsiliasi bangsa Indonesia yang perlu kita perhatikan,” pungkasnya.

“Kritis tetap kalau yang menodai laporkan, diproses hukum, tapi kalau saya lebih menatap ke depan, Pilkada sudah selesai, Pemilu udah selesai ini kan udah mulai membangun bangsa dengan pola yang baru. Yang lama jangan dihidupin terus gitu,” sambungnya.

Leave a comment

Search

Back to Top