OSO: Pancasila Bukan Ideologi Impor

OSO: Pancasila Bukan Ideologi Impor

Sosial Budaya No Comments on OSO: Pancasila Bukan Ideologi Impor

BeritaMonas.com – Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta Odang (OSO), menegaskan, hanya Pancasila ideologi yang paling cocok untuk bangsa Indonesia. Sebab Pancasila bukanlah ideologi impor yang berasal dari luar negara ini, melainkan ideologi yang lahir dari pemikiran para founding fathers.

“Pancasila bukan ideologi impor. Pancasila dilahirkan oleh anak-anak muda, tokoh politik, ulama, cerdik pandai, tokoh daerah, founding fathers bangsa ini,” kata OSO saat memberi Kuliah Umum dan Transfer Energi Pancasila dan Narasi Kebangsaan, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, Pekanbaru, Riau, Rabu (7/8).

Dalam acara ini, OSO begitu energik dan interaktif. Ia tak hanya berdiam diri di panggung. OSO beranjak dari podium, turun panggung dan mendatangi ribuan mahasiswa di depannya. Setelah bertanya-tanya dengan sejumlah mahasiwa, OSO kembali menerangkan pentingnya menjaga Pancasila.

Nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila Pancasila, sebut OSO, digali dari nilai asli Indonesia. Pancasila bukan hanya menjadi ideologi bangsa, tapi terbukti ampuh menjadi pemersatu. Masyarakat Indonesia dari Aceh hingga Papua, hidup tentram berdampingan di bawah Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kekuatan ampuh Pancasila sebagai pemersatu bangsa, lanjut OSO, pernah diprediksi Presiden Soekarno. Saat itu, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito dan Soekarno bertemu. Keduanya saling bertanya soal nasib bangsa masing-masing sepeninggal mereka.

Kata OSO, saat itu Tito membanggakan tentaranya yang hebat. Tito yakin, tentaranya bisa menjaga Yugoslavia. Sedangkan Soekarno menyatakan yakin Pancasila bisa menjaga bangsa Indonesia. “Aku tidak khawatir, aku mewariskan kepada bangsaku, way of life, Pancasila,” ucap OSO, menirukan ucapan Soekarno waktu itu.

Semua itu, lanjut OSO, sudah terbukti. Yugoslavia, yang dulu tentaranya kuat, sekarang hancur menjadi beberapa negara. Padahal sukunya tak banyak berbeda seperti Indonesia.

“Sementara Indonesia, banyak pulau, berbagai suku, agama, golongan, masih tegak berdiri, belum terpecah. Kuncinya Pancasila, yang sudah menjadi pandangan hidup sekaligus alat pemersatu,” ungkap OSO, berapi-api.

Dia pun prihatin dan sangat menentang munculnya paham radikalisme serta mulai beraninya pihak yang ingin mengabaikan dan menggantikan Pancasila. Dia pun mengajak hal tersebut dihalau. Untuk itu, dibutuhkan ikrar, dialog, dan tukar pikiran seperti yang dilakukan Universitas Riau.

OSO berharap, kampus-kampus, lembaga pendidikan, dan elemen lain di berbagai daerah mencontoh inisiatif Universitas Riau. “Berarti mahasiswa Riau ini kan sadar bahwa akan ada kehancuran bila tidak mencegah dari sekarang. Ini harus saya apresiasi,” ucap pria yang juga menjabat Ketua DPD RI.

Di ujung kuliah umum, OSO bersama Rektor Univeristas Riau, Prof Aras Mulyadi, dan ribuan mahasisa baru Univeristas Riau melakukan Deklarasi Riau Menjaga Pancasila dan Menolak Paham Radikalisme. Ada empat poin deklarasi. Pertama, siap menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Kedua, menolak dengan tegas paham radikalisme, terorisme, intoleransi dan menjauhi narkoba. Ketiga, menolak setiap peredaran berita hoaks dan bohong. KKeempat, siap menjaga perstauan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.

Di tempat yang sama, anggota MPR, Gede Pasek Suardika, juga mengingatkan pentingnya menjaga keberstauan yang berhasil dipertahankan hingga 74 tahun Indonesia merdeka. “Kita sudah belajar bersatu sejak dulu. Bahasanya persatuannya saja Melayu, bukan Jawa. Padahal Jawa penduduknya paling banyak. Di situlah pendiri bangsa kita ini sangat berjiwa besar. Bangun dan jaga terus mental persatuan, yang sudah susah payah diperjuangkan founding fathers,” ingatnya. [FAQ]

Leave a comment

Search

Back to Top