Konsep Pembangunan SDM Indonesia Dipresentasikan di Inggris

Konsep Pembangunan SDM Indonesia Dipresentasikan di Inggris

Sosial Budaya No Comments on Konsep Pembangunan SDM Indonesia Dipresentasikan di Inggris
BeritaMonas.com – Tahun ini pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) akan menjadi prioritas pembangunan Pemerintah Indonesia dalam lima tahun ke depan. Konsep terkait pembangunan SDM Indonesia inilah yang dipaparkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di University of Nottingham, Inggris. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, konsep pengembangan SDM Iptek dan Dikti Tanah Air saat ini masih menghadapi berbagai kendala dan tantangan. Secara garis besar tantangan tersebut terdiri atas akses, kualitas, pemerataan, dan relevansi. Ghufron mengakui, akses pendidikan yang berkualitas di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa. Sedangkan menurut populasi penduduk, baru sekira 8,5 persen atau 15,5 juta orang dari total jumlah penduduk Indonesia yang mampu lulus dari perguruan tinggi. Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini? “Sebanyak 26,3 persen berpendidikan SMA, dan sisanya yaitu 65 persen hanya mengenyam pendidikan sampai di tingkat SMP (22,8 persen) dan SD (42,4 persen),” kata Ghufron, dalam siaran persnya, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019. Di sisi lain, ujar Ghufron, Indonesia dalam beberapa dekade ke depan memiliki potensi untuk menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Karena itu pembangunan SDM menjadi penentu dalam perubahan kemajuan bangsa. “Pertama untuk menuju keluar dari negara dengan pendapatan menegah, Indonesia harus mendorong ekonomi yang berbasis pada inovasi. Kedua untuk mendongkrak daya saing kita perlu menaikkan inovasi,” ujarnya. Sementara itu, perguruan tinggi memiliki tugas untuk menjadi agen pembangunan ekonomi. Melalui hasil riset dan inovasi termasuk meningkatkan peringkat universitas melalui publikasi internasional. Indonesia memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi. Namun secara institusi baru 12,48 persen yang setidaknya terakreditasi B. kendala ini dipengaruhi oleh tata kelola kampus yang belum efektif dan efisien dalam memanfaatkan SDM yang dimilikinya. “Kampus terbaik dalam negeri seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga Universitas Gadjah Mada (UGM) sendiri masih berusaha keras untuk masuk dalam peringkat 200 besar dunia,” paparnya. Sementara, kata Ghufron, strategi pembangunan sumber daya iptek dan dikti sendiri perlu memperhatikan relevansi di dunia kerja atau industri. Menurutnya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang justru menjadi pengangguran. Selain masalah kemampuan dan soft skill, pendirian program studi di perguruan tinggi belum berdasarkan pada prioritas kebutuhan pembangunan. Untuk mencetak lulusan siap pakai di industri, Kemenristekdikti tengah memperkuat bidang vokasi. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi dosen vokasi menjadi fokus. Para dosen ditingkatkan kualifikasinya melalui berbagai skema beasiswa jenjang Doktor. “Selain itu, kami juga memiliki program pelatihan, baik di dalam maupun luar negeri untuk para dosen, serta mendukung sarana prasarana pendidikan di politeknik,” pungkasnya.

Leave a comment

Search

Back to Top