Rekonsiliasi di Hari Fitri

Rekonsiliasi di Hari Fitri

Politik No Comments on Rekonsiliasi di Hari Fitri

BeritaMonas.com – Idul Fitri, sebagai hari raya terbesar yang dirayakan penduduk mayoritas Muslim di Indonesia, sarat nilai-nilai persatuan. Di tengah hiruk pikuk kondisi sosial politik bangsa ini, momentum Idul Fitri bisa menjadi sarana rekonsiliasi nasional. Merajut kembali persaudaraan yang sedkit longgar.

Salah satunya aktivitas yang mengikuti rangkaian hari lebaran adalah mudik. secara explisit, mudik menggambarkan keinginan manusia untuk kembali bersatu. Mudik adalah salah satu tradisi unik tahunan dari bumi nusantara. Pada setiap akhir bulan puasa hingga beberapa hari setelah Idul Fitri, jutaan orang berbondong-bondong kembali ke kampung halamannya. Khususnya para perantau yang mencari kehidupan di kota.

Para pemudik ini rela mengorbankan waktu, harta, dan kadang jiwa, untuk bisa bersua dengan orang tua, saudara, dan kerabatnya di desa. Tujuannya untuk sowan  kepada orang tua, melepaskan rindu, sekaligus mengikat kembali memori kolektif tentang asal muasal mereka. Para pemudik ini seolah mendapatkan energi positif saat menginjakan kakinya di desa. Sehingga setelah kembali ke kota, mereka mendapatkan semangat baru dan energi yang lebih besar. Maka tidak heran, banyak yang menganggap lebaran terasa kering jika tidak diisi dengan aktivitas mudik.

Meskipun begitu, seharusnya bangsa ini tidak sekedar melakukan aktivitas mudik yang didasarkan atas ikatan darah biologis, tetapi yang  urgen dilakukan adalah mudik untuk kembali mengingat asal-muasal kita sebagai sebuah bangsa. Mudik untuk sowan kepada Ibu Pertiwi. Mengenang memori saat-saat bangsa ini dilahirkan oleh pendiri-pendirinya. Sebab dengan mengingat masa lalu akan menghadirkan kecintaan kita terhadap bangsa ini. Proses kelahiran bangsa ini pun dipenuhi dengan tetesan darah dan keringat. Tidak hadir dengan tiba-tiba tanpa melalui proses yang panjang. Dan kehadiran bangsa ini pun ditujukan demi kesejahteraan seluruh rakyatnya. Oleh sebab itu, bangsa ini diikat oleh pertalian yang bernama bhinneka tunggal ika.

Setidaknya ada 3 alasan mengapa mudik kebangsaan begitu mendesak dilakukan. Pertama, kini semakin banyak  anak-anak yang lupa kepada Ibu Pertiwi. Bahwa beberapa diantaranya menjadi anak yang durhaka. Tidak mengakui dirinya sebagai manusia yang dilahirkan di Indonesia. Salas satu ciri golongan ini adalah kerap memaki dan menghina tanah airnya. Dalam kehidupan nyata, praktek ini kerap ditemukan. Seperti sikap tidak bangga terhadap Indonesia, gemar menghina bangsanya sendiri, dan bahkan upaya melepaskan diri dari Ibu Pertiwi. Lihat saja kehadiran kelompok-kelompok radikal yang terus merongrong NKRI, melakukan usaha untuk mendegradasi ideologi Pancasila, dan menggerogoti bangunan persatuan.

Kedua, semakin memudarnya ikatan kekerabatan kita sebagai sebuah bangsa. Meskipun dilahirkan dari rahim yang sama, tetapi kenyataannya kita kerap lupa bahwa orang-orang di samping kanan dan kiri kita adalah saudara sebangsa. Karakteristik dari memupuskan tali persaudaraan ini adalah menganggap pihak lain sebagai kelompok asing sehingga harus dijauhi dan bahkan dimusuhi.

Belakangan, fenomena seperti ini pun makin marak. Mereka yang memiliki sikap dan pandangan berbeda langsung dianggap sebagai musuh yang harus diperangi.  Masyarakat dipecah-belah menjadi kelompok mayoritas dan minoritas. Padahal mereka semua adalah saudara-saudara kita yang perlu dirangkul. Perbedaan tidak perlu disikapi dengan berlebihan. Selama tidak mengancam ikatan persatuan, maka tidak perlu disikapi secara reaktif dan berlebihan. Hal-hal inilah yang harus diwaspadai sebab akan merusak hubungan kekerabatan hkita sebagai bangsa.

Ketiga, kita perlu menegaskan ulang eksistensi kita sebagai bangsa. Dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah. Dibutuhkan orientasi agar perjalanan bangsa ini tidak terseok-seok dan tanpa arah. Dengan mudik kebangsaan,  kita melakukan napak tilas sejarah dan melakukan rekonstruksi ulang tentang arah dan tujuan bangsa ini.

Kita perlu wejangan dan bimbingan dari Ibu Pertiwi sebagai panduan. Sebab kehidupan bangsa yang dijalankan dengan serampangan akan menjerumuskan kita semua dalam jurang kehancuran. Kekhawatiran bangsa ini dijalankan secara semena-mena bukanlah tanpa sebab. Kini, lihatlah perilaku elit-elit politik yang mengelola bangsa dengan seenaknya. Amahah rakyat diselewengkan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Bukan untuk kemaslahatan bersama.

Maka momentum Ramadan dan Idul Fitri ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas kita sebagai sebuah bangsa. Seluruh komponen bangsa perlu melakukan mudik kebangsaan. Mengingat kembali jati dirinya agar tidak tercerabut dari akarnya. Termasuk mendaras ulang Pancasila sebagai konsesus bersama bangsa ini. Menurut Syafii Maarif (2017: XII), Pancasila tidak dipedomi secara nyata dalam kehidupan bernegara. Hal ini termasuk keteledoran konstitusional dan artinya bangsa ini telah melakukan penghianatan kolektif.

Leave a comment

Search

Back to Top