Masuk Urutan ke 32, Daya Saing Indonesia Masih Berpotensi Masuk Peringkat 20 Besar Dunia

Masuk Urutan ke 32, Daya Saing Indonesia Masih Berpotensi Masuk Peringkat 20 Besar Dunia

Ekonomi No Comments on Masuk Urutan ke 32, Daya Saing Indonesia Masih Berpotensi Masuk Peringkat 20 Besar Dunia

Indonesia menempati urutan 32 dari 63 negara dalam IMD World
Competitiveness Yearbook (WCY) 2019. Peringkat ini meningkat drastis
dari posisi 2018 lalu, dimana Indonesia menempati ranking 42.

Director IMD WCY Arturo Bris dalam keterangannya mengatakan bahwa
peringkat daya saing Indonesia naik signifikan 11 peringkat ke posisi 32
dengan skor 73,59.

“IMD WCY telah melakukan penilaian daya saing global sejak 1989 dan
menjadi rujukan peringkat daya saing global. Sebanyak 63 negara di
evaluasi peringkat daya saingnya berdasarkan overall ranking dari empat
faktor daya saing (competitive factors), yaitu kinerja ekonomi (economic
performance), efisiensi pemerintahan (government efficiency), efisiensi
bisnis (Business Efficiency), dan Infrastruktur (infrastructure),”
jelasnya.

Lebih lanjut, penilaian daya saing dari empat competitive factors
tersebut berdasarkan 143 kriteria dari hard data yang merupakan
data-data statistik dari sumber nasional dan internasional serta 92
kriteria dari riset data yang merupakan gabungan dari international
panel of experts dan executive opinion survey.

Penilaian hard data merepresentasikan 2/3 dari bobot skor akhir daya
saing dan riset data merepresentasikan 1/3 bobot skor akhir daya saing.

Koordinator Riset IMD WCY sekaligus Direktur Konsultasi LM FEB UI,
Willem Makaliwe mengatakan peningkatan daya saing yang dialami Indonesia
sangat signifikan.

Hal itu bisa dilihat dari tren sejak 2015, yang menunjukkan peringkat daya saing Indonesia masih berada di atas peringkat 40.

“Peningkatan peringkat daya saing Indonesia ini adalah yang kedua
paling signifikan setelah Arab Saudi yang juga naik sebesar 13 peringkat
dari posisi 39 ke posisi 26. Sementara itu, perubahan peringkat
negara-negara lain tidak terlalu signifikan,” jelas Willem di Jakarta.

Jika dilihat secara kawasan, peringkat daya saing Indonesia di
wilayah Asia Pasifik masih stagnan seperti tahun 2018 di posisi 11 dari
14 negara.

Sementara itu, di wilayah ASEAN, daya saing Indonesia masih di bawah
Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 22), dan Thailand
(peringkat 25).

“Hal yang juga menggemberikan adalah, untuk negara-negara dengan
populasi di atas 20 juta penduduk, peringkat daya saing Indonesia naik
tiga peringkat menjadi peringkat 14 dari 29 negara,” ungkap Willem yang
juga menjabat Associate Director LM FEB UI.

Dalam keterbukaan informasi hasil riset IMD WYC 2019, Willem
menuturkan bahwa peningkatan ranking daya saing Indonesia merupakan
capaian yang positif. Peningkatan kinerja mencakup pada tiga competitive
factors, yaitu economic performance, government efficiency, dan
business efficiency yang cukup signifikan, menjadi pendorong naiknya
peringkat daya saing Indonesia secara keseluruhan.

“Untuk economic performance, dalam beberapa tahun ke belakang
perlahan tapi pasti terus mengalami peningkatan kinerja hingga pada 2019
Indonesia mampu berada di posisi 25, naik dua peringkat dari tahun
sebelumnya,” tegasnya.

Peningkatan yang cukup tajam juga terjadi pada competitive factor government efficiency dari peringkat 36 menjadi peringkat 25.

Sementara itu, pada business efficiency peringkat Indonesia mengalami
kenaikan pesat dari posisi 35 ke posisi 20 pada 2019. Pada aspek
competitive factor infrastructure terjadi sedikit peningkatan, Indonesia
masih berada di posisi 53.

“Hasil ini menunjukan bahwa iklim ekonomi, bisnis dan pemerintahan di
Indonesia mendorong perusahaan untuk dapat berkompetisi baik di level
domestik maupun internasional. Namun demikian, dampak pembangunan
infrastruktur di Indonesia masih belum signifikan berpengaruh terhadap
mendorong aktivitas ekonomi dan bisnis,” ungkapnya.

Hasil riset IMD WCY 2019 di Indonesia yang dilakukan oleh LM FEB UI
ini juga menunjukkan bahwa beberapa indikator yang cukup menonjol dari
empat competitive factors, diantaranya adalah domestic economcy
(peringkat 7), tax policy (peringkat 4), serta labor market (peringkat
3).

Menurut Taufiq Nur, peneliti LM FEB UI mengatakan bahwa berbagai
upaya perbaikan yang mengalami peningkatan di tahun 2019 in diantaranya
mencakup: bribery and corruption, adaptability of government policy,
serta bureaucracy.

Lebih jauh, Managing Director LM FEB UI Toto Pranoto menyebutkan
terdapat lima tantangan yang masih dihadapi Indonesia di tahun 2019 ini,
yaitu stagnannya pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kredit; masih
kurangnya penguatan industri dasar; inkonsistensi penerapan kebijakan
dan penegakan hukum; perlunya peningkatan kompetensi dan keahlian SDM;
dan perubahan struktur pemerintahan pasca pemilihan presiden 2019.

“Menjawab tantangan-tangangan ini adalah upaya untuk terus meningkatan daya saing Indonesia,” pungkas Toto.

Leave a comment

Search

Back to Top