Dukung Polri Tindak Tegas Para Penghasut

Dukung Polri Tindak Tegas Para Penghasut

Politik No Comments on Dukung Polri Tindak Tegas Para Penghasut

Indonesiabangsaku.com – Polri mulai menindak tegas para penghasut yang menyebarkan kebohongan, mengancam simbol negara, mengajak menolak hasil Pemilu 2019, dan menyerukan makar. Satu per satu pihak yang diduga menyebarkan kebohongan, mengancam pemerintah, bahkan mengobarkan ajakan makar mulai diproses secara hukum. Salah satu tersangka kasus makar, Eggi Sudjana bahkan telah ditahan. Eggi menjalani pemeriksaan sejak Senin sore (13/5) di Polda Metro Jaya dan ditangkap saat menjalani pemeriksaan di ruang pemeriksaan, Selasa dini hari (14/5). Kemudian, Eggi langsung ditahan oleh penyidik seusai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, Selasa malam (14/5).

Eggi tidak mau menandatangani berita acara penangkapan dan penahanan
serta mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono
mengungkapkan, penyidik Polda Metro Jaya telah menahan Eggi Sudjana di
Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya untuk kepentingan penyidikan,
meskipun Eggi menolak menandatangani berita acara penahanan tersebut.
”Ditahan untuk masa penahanan di kepolisian selama 20 hari,” ujar Argo
di Mapolda Metro Jaya, Rabu (15/5). Dia menjelaskan, penyidik menahan
Eggi sesuai prosedur yakni setelah menjalani pemeriksaan sebagai
tersangka.

Eggi ditahan karena dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan
barang bukti, dan mengulangi perbuatannya. Selain Eggi, Polri juga mulai
memproses hukum Lieus Sungkharisma yang dilaporkan atas tuduhan
menyebarkan hoaks dan makar. Lieus juga telah dipanggil untuk diperiksa,
Selasa (14/5).

Karena itu, polisi melayangkan panggilan kedua. ”Penyidik menyiapkan
surat panggilan kedua dan dilayangkan untuk yang bersangkutan,” kata
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri.
Lieus dijadwalkan akan diperiksa pada Jumat (17/5).

Pihak yang dipanggil dan akan diperiksa terkait makar lainnya adalah
Permadi Satrio Wiwoho. Politikus Partai Gerindra itu dilaporkan ke Badan
Reserse Kriminal Mabes Polri pada 7 Mei 2019. Permadi dilaporkan telah
menyerukan makar atau ajakan melakukan revolusi. Permadi dijerat dengan
Pasal 14 dan/atau 15 UU No 1 Tahun 1946 dan Pasal 107 juncto Pasal 110
juncto Pasal 87 KUHPtentang perbuatan makar dan keonaran.

Pidato

Nasib setali tiga uang dengan Permadi dalah Mayjen (Purn) TNI Kivlan
Zen. Dia dilaporkan atas tuduhan makar dan penyebaran hoaks. Kasus
bermula dari peredaran video Kivlan yang berpidato dengan dugaan memuat
ajakan makar. Dia dijerat dengan UU No 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal
14 an/atau Pasal 15, UU No 1 Tahun 1946 tentang KUHPPasal 107 jo Pasal
110 jo Pasal 87 dan/atau Pasal 163 jo Pasal 107. Polisi juga mencekal
Kivlan. Polri menyebut Kivlan Zen hendak ke Brunei Darussalam lewat
Batam. Kivlan Zen ditemui personel Bareskrim Polri yang menyerahkan
surat panggilan atas laporan dugaan makar. Namun akhirnya surat
pencekalan itu dicabut. Sementara itu, Hermawan Susanto, pendukung
capres 02 Prabowo-Sandi ditangkap dan diproses secara hukum oleh polisi,
14 Mei 2019. Dia ditangkap saat videonya yang mengancam akan memenggal
Presiden Jokowi viral.

Hermawan berada di rumah saudaranya di Parung, Kabupaten Bogor.
Hermawan mencoba melarikan diri setelah mengetahui perkataannya menjadi
viral di media sosial sehingga dicari polisi. Saat ditangkap, Hermawan
mengaku khilaf dan minta maaf atas perbuatannya itu. Dia diduga
melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan tindak
pidana di bidang ITE dengan modus pengancaman pembunuhan terhadap
Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 KUHPdan Pasal 27 ayat 4
juncto Pasal 45 ayat 1 UU ITE. Hermawan pun kini menjadi tahanan Polda
Metro Jaya. Kasus ini tidak hanya berhenti pada proses hukum Hermawan.
Polisi juga menangkap pembuat video Hermawan, yakni Ina Yuniarti. ”Ina
Yuniarti pelaku yang menyebarkan dan merekam video tersebut,” kata Kabid
Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Rabu (15/5).

Argo menyebut, selain merekam, Ina menyebarkan video itu melalui
aplikasi pesan. Polisi hingga kini masih menginterogasi Ina untuk
mencari tahu motif Ina merekam dan menyebarkan video tersebut. Kasus
hoaks juga menjerat Haikal Hassan. Dia dijadwalkan dipanggil Bareskrim,
Kamis (16/5). Namun Haikal tidak dapat memenuhi panggilan itu karena
sedang umrah. Dari pengacara sudah memberi tahu ke penyidik Bareskrim
bahwa kliennya sedang tidak berada di Indonesia, sedang umrah,” ungkap
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Dedi menuturkan penyidik menghormati alasan Haikal. Penyidik akan
menjadwalkan ulang agenda pemeriksaan Haikal sebagai saksi terlapor
setelah berada tiba di Tanah Air. Sebelumnya, Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menyatakan akan
menggunakan pasal makar untuk menjerat para pihak yang menyerukan
gerakan massa setelah penyelenggaraan Pemilu 2019. Menurut dia, aturan
yang tertuang dalam Pasal 107 KUHP itu bisa digunakan apabila gerakan
massa itu mengandung unsur ingin menjatuhkan pemerintahan.

”Mobilisasi umum untuk penyampaian pendapat harus melalui mekanisme
yang benar. Jika tidak menggunakan mekanisme yang benar, apalagi kalau
ada bahasa akan menjatuhkan pemerintah, itu Pasal 107 KUHPjelas,” tandas
Tito. (K24,dtc-41)

Leave a comment

Search

Back to Top