ARMAGEDDON, BARATAYUDA DAN AMIEN RAIS

ARMAGEDDON, BARATAYUDA DAN AMIEN RAIS

Politik, Sosial Budaya No Comments on ARMAGEDDON, BARATAYUDA DAN AMIEN RAIS

Tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba saja Profesor Amien Rais mengatakan bahwa bakal ada Armageddon atau Baratayuda pada tanggal 17 April 2019. Saat memberikan wejangan kepada sejumlah peserta Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta pada hari Rabu 28 November 2018, salah satu pendiri dan tokoh senior Partai Amanat Nasional (PAN) ini bicara soal pemilihan presiden yang sudah dekat dan sebentar la-gi bakal ada Armageddon atau Baratayuda.

Dalam ceritera pewayangan Mahabarata, Baratayuda adalah perang besar sesama saudara keturunan Barata, antara Pandawa dan Kurawa yang berlangsung di Kurukshetra. Wiracarita ini melambangkan peperangan antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat, yang dimenangkan oleh Pandawa sebagai simbol kekuatan baik.

Armageddon umumnya dipersepsikan sebagai perang dunia di akhir zaman. Di kalangan kaum muslimin, sebagaimana diketemukan dalam manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah, Armageddon dikenal sebagai Al-Majidun atau perang kemuliaan. Nabi Muhammad SAW menyebut perang akhir zaman ini sebagai Al-Malhamah Al-Kubro, suatu huru-hara besar yang tiada tandingannya, yang merupakan penampakan qudratullah, kuasa Allah untuk membungkam kesombongan kaum kafir.

Penganalogian pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) 2019 dengan Armageddon atau Mahabarata oleh Amien Rais sama sekali tidak tepat. Pilpres dan Pileg adalah pesta demokrasi layaknya sebuah pesta, haruslah diwarnai dengan narasi politik yang menyejukkan, menggairahkan dan menggembirakan. Pesta demokrasi selayaknya diusahakan sekuat tenaga agar berlangsung aman, damai dan penuh keceriaan. Perbedaan pendapat dan pilihan adalah hal yang sangat biasa, tak perlu disertai dengan gontok-gontokan, apalagi sampai bunuh-membunuh antar sesama anak bangsa. Jadi tidak perlu ada tokoh yang menebarkan narasi yang menimbulkan rasa ketakutan di masyarakat.

Barangkali sudah menjadi karakter Amien Rais untuk mengeluarkan pernyataan yang hiperbolik. Pada masa lalu ia juga menyebutkan pesta demokrasi itu sebagai Perang Badar. Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan Tahun 2 Hijriah, atau 13 Maret 624 Masehi, adalah perang antara pasukan Rasulullah melawan pasukan kafir Quraisy Mekkah yang dipimpin Abu Jahal, yang dimenangkan secara gemilang oleh pasukan Rasulullah kendatipun kaum Quraisy Mekkah unggul dalam jumlah personel dan persenjataan.

Pilpres dan Pileg adalah pesta demokrasi. Seharusnya di sana tidak ada permusuhan, apalagi peperangan. Yang ada hanyalah pertarungan gagasan dan program untuk memajukan bangsa dan negara, sebagaimana dicita-citakan para bapak bangsa Indonesia dan tertuang dalam konstitusi, Undang Undang Dasar 1945. Dengan demikian, Pilpres dan Pileg sama sekali tidak dapat dianalogikan dengan Armageddon, Baratayuda atau Perang Badar.

Dalam video yang beredar, Amien Rais juga menyebutkan bahwa tanggal 17 April 2019 itu adalah pertaruhan terakhir, apakah unsur-unsur PKI akan menang ataukah sebaliknya. Ini adalah pernyataan provokatif dan ahistoris. Partai Komunis Indonesia atau PKI sudah dibubarkan sejak lama, dan komunisme sudah bangkrut di muka bumi. Kenapa, dan apa kepentingannya sehinga hantu komunisme harus dibangkitkan dari liang kuburnya?

Kita masih ingat bahwa menjelang reformasi pada Mei 1998, Amien Rais adalah salah satu dari empat orang tokoh bangsa yang dianggap sebagai lokomotif reformasi di samping Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Sultan Hamengkubuwono X. Sebagai tokoh senior, sepatutnya ia memosisikan dirinya sebagai negarawan yang bijaksana, bukan malah menurunkan derajatnya menjadi sekedar politikus yang haus kekuasaan.

Menebarkan ‘’teror psikologis’’ dengan istilah hiperbolik dan bombastis semacam Armageddon atau Baratayuda seraya mengutip ayat-ayat perang dari kitab suci, tidak perlu dilakukan. Kita tidak sedang berperang, tetapi sekedar berkompetisi mengadu gagasan dan program. Persaingan ketat memang dapat melahirkan situasi “silih ungkih singa lena”, siapa yang kurang waspada akan menderita kerugian. Akan tetapi itu sama sekali berbeda dengan situasi perang yang harus saling membinasakan dan menghancurkan.
Kita berharap jangan ada tokoh politik atau tokoh dalam bidang apapun yang bisa menjadi provokator dan kompor yang memanaskan situasi, apalagi berperan bak Sengkuni dalam dunia pewayangan. Patih Sengkuni dari kerajaan Astina adalah ahli fitnah dan suka membuat tipu muslihat untuk memecah-belah dua keluarga bersaudara, yakni Pandawa dan Kurawa, sehingga Baratayuda menjadi tak terelakkan. Sengkuni adalah lambang manusia yang licik, berjiwa busuk dan jahat. Dia adalah tokoh antagonis sejati. Meskipun sebenarnya sangat cerdas, tangkas, lihai berbicara dan banyak akal, tetapi segala kelebihan itu dimanfaatkan untuk memfitnah, menghasut dan mencelakakan orang lain.

Jadi biarlah Sengkuni hanya hidup di dunia pewayangan dan tak pernah mengejawantah ke kehidupan nyata di bumi Indonesia. Demikian juga dengan Armageddon. Biarlah Armageddon kita nikmati sebagai karya seni, sebagai film fiksi ilmiah tentang perang besar di akhir zaman. Seperti diketahui, film dengan judul Armageddon pernah meraih nominasi Academy Awards sebagai fim tentang bencana terbaik pada 1998. Film ini disutradarai oleh Michael Bay dan diproduseri oleh Jerry Bruckheimer dengan sejumlah aktor top sebagai bintangnya, antara lain Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler dan Billy Bob Thornton.

Akhir kata, kita mengharapkan Tokoh siapapun menampilkan aura keprofesionalannya dengan pernyataan-pernyataan yang mendidik dan sejuk sehingga kondisi politik nasional menjadi tenang dan damai dan rakyat menyambut Pilpres dan Pileg dengan penuh keceriaan.

*Oleh Tinova (Mahasiswa Ilmu Perikanan Undip)

Leave a comment

Search

Back to Top