Maruli Lumban Gaol: Pancasila Merekatkan Kemajemukan Indonesia

Maruli Lumban Gaol: Pancasila Merekatkan Kemajemukan Indonesia

Ideologi, Politik No Comments on Maruli Lumban Gaol: Pancasila Merekatkan Kemajemukan Indonesia

Jakarta, BeritaMonas – Pancasila menjadi perekat kemajemuakan bangsa Indonesia. Dalam hal ini pemerintah diminta menerapkan kembali Pendidikan Pancasila kepada generasi muda. Namun upaya itu harus dilakukan dengan memperhatikan kemasan dan cara penyampaiannya. Pasalnya, pendidikan yang mengenalkan Pancasila sempat menimbulkan trauma sebagai alat propaganda kekuasaan.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Maruli Lumban Gaol dalam diskusi publik bertema Pancasila Perekat Kemajemukan Bangsa Indonesia.

Dalam diskusi yang digelar di Blue Sky Pandurata Boutique Hotel Jakarta itu, Maruli menyebut bahwa kebhinnekaan bangsa akhir-akhir ini sedang diuji oleh kelompok-kelompok yang tidak menginginkan kemajemukan.

Salah satu penyebabnya, lantaran satu generasi kita tidak mengecap yang namanya Pendidikan Moral Pancasila. Karena itulah, Forum menilai jika pendidikan untuk mengenalkan Pancasila kepada generasi muda perlu dikembalikan.

“Untuk mengenal Pancasila, mau tidak mau kita harus kembalikan. Sayangnya, ada trauma bangsa ini, bahwa Pancasila digunakan sebagai alat propaganda kekuasaan. Ini terjadi di era orde baru,” katanya.

Karena trauma itulah, lanjut Maruli, kita akhirnya merasa kehilangan setelah menghentikan Pendidikan Pancasila. Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang ignoren dan tidak punya tataran moral kebangsaan yang benar. Karena itulah, jika ada pertanyaan apakah penting mengembalikan Pendidikan Moral Pancasila? Dirinya merasa hal itu sangat penting.

“Tetapi yang harus diperhatikan adalah kemasannya. Contentnya sama tetapi kemasan atau penyampaiannya yang harus dirubah,  bahwa ini bukan sebuah propaganda. Ini bukan alat doktrinisasi oleh pemerintah,” kata Maruli tegas.

Seperti yang dialami generasi sebelumnya, akan ada konsekuensi-konsekuensi jika tidak mengikuti penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Maruli mencontohkan, salah satu syarat mahasiswa untuk mengajukan sidang skripsi harus menyertakan sertifikat penataran P4 tersebut. Syarat itulah yang sekarang ini sudah tidak ada lagi.

“Tapi justru di situlah letak penjabaran dari pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan hal-hal yang dapat merekatkan kemajemukan kita. Di situ bicara tentang kemanusiaan, berserikat dan berkumpul, persatuan dan ketuhanan, semua dijabarkan di situ. Ini yang harus dikembalikan supaya generasi berikutnya memiliki fundamental yang sama,” paparnya.

Dirinya berharap, ada itikad dari pemerintah agar mengembalikan pendidikan dan pengamalan Pancasila di lingkungan sekolah-sekolah. Dengan begitu, ke depan tidak ada lagi upaya-upaya yang ingin merongrong Pancasila sebagai perekat kemajemukan bangsa. (sdk)

Leave a comment

Search

Back to Top