Wacana Sertifikasi Memberikan Kepastian Ajaran ulama kepada Jamaahnya

Wacana Sertifikasi Memberikan Kepastian Ajaran ulama kepada Jamaahnya

Ideologi, Sosial Budaya No Comments on Wacana Sertifikasi Memberikan Kepastian Ajaran ulama kepada Jamaahnya

JAKARTA – Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki berbagai macam suku dan budaya. Masyarakatnya pun memiliki kebebasan untuk beragama dan beribadah yang dijamin dalam undang-undang.

Keberagaman hidup membutuhkan toleransi tinggi seperti yang tercetus dalam semboyan bangsa, Bhinneka Tunggal Ika. Idealnya, tidak perlu ada kelompok-kelompok yang saling menjelekkan. Kekuatan bangsa muncul saat setiap kelompok mendasarkan pola hidup pada Pancasila, menjaga persatuan, dan tidak membuat jarak dalam perbedaan.

Hal ini menjadi salah satu pertimbangan Menteri Agama dalam penyusunan wacana sertifikasi bagi Khatib Shalat Jumat pada bulan Januari 2017. Dengan sertifikasi ini, diharapkan tidak ada lagi khotbah Jumat berisikan hal-hal konfrontatif, apalagi provokatif.

Hal yang sama dapat menjadi dasar wacana sertifikasi ulama. Hal ini berkiblat pada kebaikan dan sifat positif karena dapat digunakan sebagai metode untuk menjaring kualifikasi untuk meminimalisir ketidaklayakan dan ketidakrelevansian ulama dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dengan demikian, diharapkan upaya ini dapat menurunkan tingkat radikalisasi melalui mimbar-mimbar agama yang menerapkan pola komunikasi satu arah.

Pada tahun 2012 KH Syarif Rahmat pernah mengatakan bahwa sertifikasi ulama sebenarnya telah ada dalam khazanah sejarah umat Islam. Contohnya saja dalam periwayatan hadits nabi yang selalu dilakukan secara ketat. Dalam rangka menyelamatkan sunnah nabi perlu dilakukan Rijalul hadits sebagai timbangan atau ukuran yang presisi. Hal yang sama juga terjadi pada berbagai bidang dalam kehidupan sehari-hari, misalnya sertifikasi guru.

Dengan demikian, dapat diartikan bahwa pada dasarnya sertifikasi ulama dimaksudkan untuk memberikan jaminan dan kepastian akan setiap ajaran yang disampaikan ulama pada jemaahnya, bukan sebagai bentuk pengkerdilan ulama seperti yang belakangan ini ramai diberitakan. (KSA)

Leave a comment

Search

Back to Top